Utusan Khusus Presiden RI Bidang Pariwisata, Zita Anjani, melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Siak. Dalam agenda tersebut, ia didampingi langsung Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, meninjau sejumlah situs bersejarah yang menjadi ikon negeri Istana. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melihat secara langsung potensi wisata berbasis sejarah dan budaya yang selama ini menjadi kekuatan utama Siak (7/2/2026).

Utusan Khusus Presiden RI Bidang Pariwisata, Zita Anjani, mengatakan kunjungannya ke Siak merupakan bagian dari upaya pemerataan peninjauan potensi pariwisata di berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya terfokus pada wilayah Indonesia Timur.

“Saya perdana mengeksplorasi Sumatera dan memilih Kabupaten Siak. Daerah ini sangat kaya akan budaya dan sejarah. Artefaknya lengkap, masih terdapat istana dan berbagai peninggalan bersejarah,” kata Zita. Ia menilai Kabupaten Siak memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata edukatif, terutama bagi generasi muda.

Saat kunjungan di Skelas,  Zita Anjani mengadakan pertemuan dengan komunitas Ekonomi Kreatif (Ekraf) di kawasan Tangsi Belanda, untuk membahas pengembangan industri kreatif dalam mendukung pariwisata. Pada kesempatan tersebut Zita mendapatkan pengalaman langsung menganyam pandan bersama pengrajin lokal siak yang di produksi oleh UMKM Siak yakni SUWAI.

Dalam rangka memperingati HUT PT Pertamina (Persero) yang ke-68, penerima Beasiswa Pertamina Sobat Bumi berkomitmen untuk berkontribusi secara aktif dalam pelestarian lingkungan. Saat ini, Indonesia menghadapi berbagai tantangan lingkungan, termasuk terjadinya bencana alam di beberapa kota. Oleh karena itu sangat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dalam aksi nyata demi memulihkan bumi dan lingkungan sekitar. Mengusung tema besar “Indonesia Pulih, Indonesia Lestari” inisiatif ini merupakan kontribusi aktif dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun PT Pertamina (Persero) yang ke-68, sekaligus menjadi momentum kolaborasi nyata antara akademisi, komunitas lokal, dan pemerintah daerah.


Kampung Kayu Ara Permai menjadi lokasi pelaksanaan Aksi Tanam Pohon dan edukasi metode penanaman mangrove yang mengusung konsep Green Action, yang dilaksanakan oleh Sobat Bumi (SoBi). Kegiatan ini dilakukan di dua titik pada lokasi yang sama sebagai upaya nyata menjaga kelestarian lingkungan pesisir serta mencegah abrasi melalui penanaman tanaman penyerap karbon dioksida (CO₂).

Pada titik pertama, sebanyak 250 bibit mangrove ditanam dengan melibatkan penerima beasiswa Sobat Bumi Program Fasilitator (PF) 10, 11, dan 12, bersama 38 relawan non-SoBi, pengurus dan pengelola Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah Laskar Mandiri, komunitas Skelas, relawan Siak TV, serta Radio RPK Siak. Sementara itu, pada titik kedua yang berada di zona 1, dilakukan penanaman 50 bibit mangrove yang diikuti secara khusus oleh PF 12.

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga disertai dengan edukasi mengenai metode menanam mangrove yang benar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan peserta, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya pelestarian ekosistem mangrove.

Kegiatan Aksi

Aksi Pulihkan Bumi

Aksi ini Bertujuan membangun kepedulian SoBI untuk membantu masyarakat terdampak bencana untuk bangkit dari keadaan yang terjadi. Lokasi Non Bencana(kampung kayu ara permai, kec. sungai apit: Sosialisasi dengan story telling kesiapsiagaan bencana dan mengadakan kegiatan kreatif yakni lomba mewarnai dengan pesertanya 15 anak sekolah alam tempatan

Aksi Tanam Pohon dan edukasi

Aksi Tanam Pohon dan edukasi Metode Menanam Pohon di 2 titik pada lokasi yang sama yakni kampung kayu ara permai di titik pertama 250 bibit mangrove (seluruh peserta:pf 10,11, dan 12, kemudian 38 volunteer non sobi, pengurus mangrove laskar mandiri, komunitas skelas, relawan siak tv dan radio rpk siak) di titik ke 2 berjumlah 50 bibit mangrove (hanya pf 12 saja lokasi di zona 1) dengan Konsep Green Action yang dilakukan oleh SoBi melalui penanaman tanaman penyerap 𝐶𝑂2 yang bertujuan untuk mencegah abrasi.

Aksi Kolaborasi

Kegiatan Aksi Sobat Bumi (Green Action) diharapkan dapat menciptakan ruang kolaborasi antara penerima Beasiswa Pertamina Sobat Bumi (SoBi), Perguruan Tinggi, masyarakat, dan berbagai pihak terkait dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, hijau, dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk memperkuat semangat gotong royong dan kesetiakawanan sosial.

Total partisipan dalam kegiatan ini mencapai 98 orang, yang terdiri dari 15 anak usia sekolah dasar dari Sekolah Alam, 38 relawan non-SoBi, penerima beasiswa Sobat Bumi Pertamina Foundation 10, 11, dan 12, serta para pemangku kepentingan yang turut mendukung kegiatan.

Sejumlah stakeholder turut hadir dan berpartisipasi aktif, di antaranya Pemerintah Kampung Kayu Ara, Pengurus dan Pengelola Ekowisata Mangrove Sungai Bersejarah Laskar Mandiri, Tim Sentra Kreatif Lestari Siak, Tim Siak TV dan Radio RPK Siak, serta perwakilan dari Kampus STAI Susha Siak.

Aksi Bersama SOBAT BUMI SIAK Tahun 2025

Melalui kegiatan ini, SoBi berharap aksi kolaboratif penanaman mangrove dapat memberikan dampak positif jangka panjang bagi lingkungan pesisir, sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim dan pelestarian alam sejak dini.

Sentra Kreatif Lestari Siak (SKELAS) kembali menghadirkan edisi ke-16 dari program rutin SKELAS BESELO, forum berbagi dan apresiasi yang menghidupkan semangat beselo dalam budaya Melayu, duduk bersama, berbicara dari hati, dan mendengarkan dengan setara. Kali ini, SKELAS BESELO hadir dengan format yang berbeda: pemutaran perdana film dan diskusi budaya bertajuk “Pagelaran Hati”, hasil kolaborasi antara SKELAS dan Naratama Production, kelompok sineas muda asal Siak.

Film Karya Anak Muda Siak

Film berdurasi ±25 menit ini menjadi karya perdana Naratama Production yang mengangkat kisah tentang cinta, budaya, dan kebersamaan masyarakat Melayu di tepian Sungai Siak. Melalui kisah Ali, seorang pemuda urban yang menemukan kembali makna kebersamaan dan pelestarian budaya lewat pagelaran seni di kampung halamannya, film ini menghadirkan nuansa hangat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Siak.


Penayangan perdana berlangsung di Tangsi Belanda, Mempura, pada Rabu malam
(29/10/2025). Suasana acara dikemas sederhana namun penuh semangat lokal, dengan galeri foto produksi film dan sajian santai yang mempertemukan komunitas kreatif, pelaku seni, dan masyarakat.

Bebual dan Refleksi Bersama

Selepas pemutaran film, kegiatan berlanjut ke sesi “bebual”, diskusi reflektif khas SKELAS BESELO, yang menghadirkan berbagai pandangan dari sineas, pelaku seni, pemerintah daerah, dan masyarakat. Moderator dari SKELAS memandu percakapan yang menggali proses kreatif Naratama Production, tantangan produksi, hingga dukungan lintas sektor bagi perfilman lokal.

Di tengah sesi, acara mendapat kejutan spesial dengan hadirnya Bupati Siak, Ibu Afni Zulkifli, yang turut memberikan semangat dan dukungan bagi sineas muda. Dalam sambutannya, Bupati mendorong anak muda untuk terus berkarya, mengangkat tema-tema lokal, dan tidak berhenti karena keterbatasan pendanaan.

Beliau juga berencana membuka ruang dialog lanjutan serta menggerakkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk filantropi, untuk produksi film bertema lingkungan.

Diskusi berlangsung hangat dan produktif, menghasilkan sejumlah komitmen dari
berbagai pihak:
● Dinas Pariwisata siap membuka akses fasilitas untuk produksi film selanjutnya.
● Dinas Pendidikan dan Kebudayaan berkomitmen mendukung semangat film ini dalam program mereka.
● Teras Riau (LSM) memberikan dukungan dana sebesar Rp5.000.000 untuk proyek film berikutnya.
● Penonton turut memberikan ide untuk tema film selanjutnya, seperti potensi lahan gambut dan keresahan generasi muda terhadap peluang kerja di daerah

Ruang Kolaborasi yang Hidup
Acara ditutup dengan sesi foto bersama dan penyampaian apresiasi dari SKELAS kepada seluruh pihak yang terlibat. Meskipun sempat mengalami sedikit keterlambatan teknis, kegiatan berjalan lancar dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. SKELAS BESELO edisi ini menegaskan peran SKELAS sebagai ruang kolaboratif bagi masyarakat kreatif di Siak, tempat ide, seni, dan semangat muda berpadu untuk membangun daerah dengan cara yang berakar pada budaya. Melalui Pagelaran Hati, SKELAS dan Naratama Production menunjukkan bahwa film lokal bisa menjadi medium kuat untuk menyuarakan identitas dan nilai-nilai Melayu dengan cara yang segar dan relevan.

Siak, 17 Oktober 2025 — Penyelenggara Siak Innovation Challenge 2.0 dengan bangga mengumumkan 10 peserta terpilih yang berhasil melanjutkan ke tahap Mentoring dan Pitching. Tahapan ini menjadi langkah penting dalam perjalanan peserta untuk memperkuat ide dan solusi inovatif yang mereka tawarkan bagi pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Siak.

Setelah melalui proses seleksi yang ketat dari total 93 pendaftar, sepuluh ide terbaik dipilih berdasarkan orisinalitas, dampak sosial dan lingkungan, serta potensi keberlanjutan. Para peserta terpilih akan mendapatkan sesi mentoring intensif bersama para ahli, praktisi, dan mentor berpengalaman guna mengasah konsep inovasi mereka agar siap dipresentasikan di tahap pitching.

Melalui Siak Innovation Challenge 2.0, diharapkan lahir inovasi-inovasi baru yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Puncak kegiatan akan ditandai dengan sesi pitching, di mana para peserta akan mempresentasikan ide mereka di hadapan dewan juri dan pemangku kepentingan daerah.

Berikut 10 Ide terpilih:

1.Bumkam Sejahtera : Mitigasi sampah desa lewat bank sampah yang mengolah limbah organik jadi pakan maggot dan pupuk, serta memilah sampah anorganik bernilai jual;

2. ADTEPEVATION : MPASI lokal berbahan dadih, spirulina, dan pegagan untuk cegah stunting dan dukung ketahanan pangan daerah.

3. SUKUN : Diversifikasi pangan lokal dengan tepung sukun bergizi untuk kurangi ketergantungan pada beras.

4. BALIK KE RIAU : Gerakan kompos sekolah dari limbah organik program makan bergizi gratis di Kota Siak.

5. LIOFIT MEDIA : Limbah akuakultur diolah menjadi pupuk organik cair untuk lahan gambut yang lebih subur dan ramah lingkungan.

6. TIM SEHATI : Wisata interaktif Smart Heritage Tour dan Eco-River Cruise yang memadukan sejarah Siak, teknologi, dan pelestarian alam.

7. MANGALO FORTIRICE : Beras analog dari ubi kayu Sakai dan bonggol pisang sebagai alternatif sehat dan berkelanjutan.

8. FRUIT GUARD : Lapisan probiotik alami untuk memperpanjang daya simpan buah tropis tanpa bahan kimia.

9. PEATRONICS : Sistem IoT berbasis LoRa untuk memantau dan mengatur pintu air lahan gambut secara real-time.

10. ARCHISCAPE :Wisata edukatif berbasis taman bunga obat yang bisa dimakan, memperkuat identitas lokal Siak.


Sampai ketemu ditahap berikutnya.

Siak Sri Indrapura, 13 Agustus 2025, Sentra Kreatif Lestari Siak (SKELAS) kembali menggelar kegiatan SKELAS BESELO edisi ke-15 di Tangsi Belanda, dengan mengusung tema “Lokal Tapi Berdaya: Dari Siak untuk Ekonomi yang Lestari.” Kegiatan ini menghadirkan pelaku UMKM, komunitas kreatif, serta perwakilan pemerintah daerah untuk berdiskusi hangat mengenai potensi dan tantangan pengembangan usaha lokal berbasis keberlanjutan.


Program SKELAS BESELO merupakan ruang diskusi terbuka khas SKELAS yang memadukan budaya Melayu dalam suasana santai beselo (duduk bersama), untuk membahas isu-isu strategis bagi orang muda dan masyarakat Siak. Pada edisi ini, forum menyoroti bagaimana pelaku UMKM dapat memperkuat daya saing usaha dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.


Hadir sebagai narasumber, Kak Cerli (Founder Suwai, usaha anyaman pandan) dan Bang Satria (penggiat ekonomi kreatif), berbagi pengalaman dalam mengembangkan produk berbasis potensi lokal. Keduanya menekankan pentingnya memulai dari lingkungan sekitar, menjaga kualitas produk, dan mengintegrasikan nilai keberlanjutan dalam bisnis. Selain itu, Kabid UMKM Dinas Koperasi & UMKM Kabupaten Siak, Bapak Asmudin, turut hadir memberikan arahan serta menyampaikan berbagai dukungan pemerintah bagi pelaku usaha, di antaranya fasilitasi legalitas (NIB dan sertifikat halal), pemasaran produk melalui jaringan ritel, bantuan modal tanpa bunga, dan dukungan peralatan produksi. Ia juga menegaskan pentingnya inovasi, adaptasi digital, dan penguatan identitas lokal agar produk Siak mampu bersaing di pasar yang lebih luas.


Diskusi berlangsung interaktif. Peserta, yang berasal dari beragam latar belakang usaha seperti kuliner, kerajinan, hingga wisata edukasi, menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, seperti penurunan daya beli, keterbatasan bahan baku, dan minimnya lokasi strategis untuk memasarkan produk.


Dari forum ini muncul pula sejumlah ide kreatif, termasuk gagasan pendirian pusat oleh-oleh terpadu, bazar UMKM harian, serta pengembangan produk berbasis bahan lokal seperti serat nanas dan pandan.


Kegiatan yang berlangsung selama dua jam ini menghasilkan sejumlah tindak lanjut, di antaranya pemetaan ulang bantuan pemerintah agar lebih tepat sasaran, rencana pembangunan pusat oleh-oleh di Jl. Raja Kecik, serta penguatan pelatihan UMKM melalui fasilitas FLUD.


Menurut Ulfa, perwakilan SKELAS sekaligus moderator kegiatan, “SKELAS BESELO bukan sekadar forum diskusi, tetapi wadah silaturahmi dan kolaborasi. Dari obrolan kecil, muncul ide besar untuk membangun ekonomi lokal yang berdaya dan lestari.” Meski berskala kecil, SKELAS BESELO Edisi 15 terbukti menghadirkan suasana akrab dan produktif. Forum ini memperkuat jejaring antar pelaku usaha dan pemerintah, serta menegaskan komitmen bersama untuk menjadikan ekonomi lokal Siak tumbuh dengan identitas dan semangat keberlanjutan.

Bank Indonesia mengadakan sosialisasi di Kabupaten Siak kepada pelaku UMKM binaan SKELAS di Tangsi Belanda (22/7/2025). Adapun UMKM yang ikut dalam sosialisasi yaitu, Suwai, Kedai Mak Cik, Tenun Nuraneni, Dapur Mempura, Telarasa, Sorean Coffee dan Pinaloka. Bank Indonesia mengadakan sosialisasi ini sebagai komitmen BI terhadap ekonomi yang ramah lingkungan bagi UMKM yang dibina oleh Bank Indonesia.

Dalam sosialisasi ini dijelaskan pedoman penerapan ekonomi hijau dan contoh UMKM yang telah menerapkan UMKM. Pada kesempatan ini hadir pula Kadis UMKM Arisman S.P dan hadir pula Kepala Tim Implementasi KEKDA Kantor Perwakilan BI Prov. Riau yaitu Hafidh Amrullah.

Siak, 4 Juli 2025, SKELAS (Sentra Kreatif Lestari) kembali menggelar Skelas Beselo edisi ke-14 di Kopitiam Untung Terus. Mengangkat tema “Bisnis dari Keresahan: Gimana Keluhan Bisa Jadi Cuan”, forum ini menjadi ruang terbuka yang menghadirkan diskusi hangat, reflektif, dan penuh semangat bagi anak-anak muda Siak yang tertarik membangun usaha dari keresahan sehari-hari.

Acara ini dihadiri oleh 30 peserta dari berbagai latar belakang, mahasiswa, pelaku UMKM muda, pegiat komunitas, dan individu yang tertarik pada bisnis berkelanjutan. Dengan suasana khas beselo, forum dirancang tanpa narasumber utama untuk menciptakan ruang setara, partisipatif, dan jujur antar peserta.

Sebagai pemantik awal, hadir dua tokoh inspiratif yang berbagi cerita jatuh bangun membangun usaha dengan dampak sosial dan lingkungan:

Diskusi kemudian mengalir melalui sesi Kotak Tantangan, berisi pertanyaan reflektif yang mengajak peserta menggali keresahan mereka, seperti:

“Apa keresahan kamu?”,
“Apa yang membuat kamu yakin keresahanmu layak didukung?”,
hingga “Kalau kamu punya 1 juta sekarang, akan kamu gunakan untuk apa?”

Dari sana, berbagai cerita bermunculan: mulai dari tantangan minimnya modal, ketakutan gagal, hingga sulitnya akses pasar. Namun semua itu justru membuka percakapan bahwa empati, kepekaan, dan keresahan bisa menjadi awal dari sebuah solusi yang bernilai.

“Dari acara ini, saya sadar bahwa keluhan saya tentang sulitnya cari produk ramah lingkungan bukan cuma dirasakan sendiri. Bisa jadi ada banyak orang juga yang mengalaminya, dan itu bisa jadi ide bisnis,” ungkap salah satu peserta dalam sesi refleksi.

Meskipun sempat berpindah lokasi ke area dalam karena cuaca mendung dan tantangan dalam menjaring peserta secara daring, antusiasme yang tinggi justru membuat waktu diskusi terasa singkat. Forum ini menunjukkan bahwa pendekatan diskusi tanpa narasumber tetap mampu membangun rasa percaya diri dan keterhubungan antar peserta.

Melalui SKELAS BESELO edisi ke-14 ini, semakin terlihat bahwa orang muda Siak memiliki semangat besar untuk membangun bisnis yang berakar dari realita dan empati. Dengan dukungan ruang aman, komunitas, dan dorongan reflektif, mereka mulai melihat bahwa memulai usaha tak harus dari modal besar, namun dari keresahan yang autentik dan keinginan untuk menciptakan perubahan.

Redaktur: Ulfa

Sebuah diskusi Beselo dengan fokus pelestarian budaya bertajuk Busana Lokal Lestari baru saja selesai dihelat di Skelas pada jumat (21/3/2025)

Foto bersama: Skelas Beselo #13

Diskusi ini tidak hanya mendorong berbagai upaya untuk pelestarian busana lokal, tetapi juga berupaya mencari solusi yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat siak dengan tetap melestarikan budaya dan lingkungan. Budaya berbusana lokal di Siak sudah turun temurun sejak masa kerajaan, menjadi kerajinan kaum bangsawan dilingkungan Istana Siak. Salah satu busana kebesaran siak adalah baju kurung leher cekak musang yang digunakan oleh Sultan berada di dalam Istana.

Maka dari itu, seperti disampaikan oleh Hendri, Ketua panitia Skelas Beselo x Ngabubustreet. Pada bulan yang baik ini kita isi dengan kegiatan yang membawa kebaikan, salah satunya melalui diskusi Beselo hari ini sebagai upaya bagi orang muda lebih mencintai busana lokal serta mendukung Perda Kab.Siak No.14 Tahun 2015 tentang tentang Berbahasa dan Berpakaian Melayu. Sebelum tahun 2015 saat masih bersekolah, berbusana melayu sudah diterapkan di sekolah negeri. Setelah adanya Perda berbusana melayu di Siak sudah mulai dilembaga pendidikan formal maupun informal, swasta dan pemerintah pada hari-hari tertentu yakni kamis menggunakan batik siak dan jumat busana melayu lengkap,tambahnya.

Pada kesempatan tersebut Skelas menghadirkan 3 orang narasumber hebat dibidang busana. diantaranya Zuriana,S.Pd, M.TPd ( ketua kompetensi keahlian desain dan Produksi Busana SMKN 1 Siak), Diana , M.Pd (kepala bagian bazar dan promosi Dekranasda Kab.Siak) dan Angela Sasna (desainer tatabusana muda).
Peluang bagi pelaku industri kreatif khususnya pelaku fashion atau tatabusana lokal untuk mendunia itu sangat besar, namun tentunya butuh gotong royong dan kolaborasi kita bersama, hal ini disampaikan oleh Diana selaku kepala bagian promosi dan bazar Dekranasda Kab.Siak. kami menjalin kerjasama dengan pengrajin tenun lokal dan SMKN 1 Pariwisata untuk produksi busana karena di SMK ini terdapat peralatan produksi lengkap. Kami melihat peserta didik di Jurusan Tata Busana SMK siak ini sangat produktif, inovatif dan memiliki kompetensi dibidangnya. Kita dapat melihat dari alumninya yang saat ini hadir Angela Sasna dengan berbagai prestasi yang didapat. Ini sangat membanggakan bagi kabupaten Siak, tambah Diana.

Zuriana menyampaikan bahwa di SMK kami membekali peserta didik dengan keterampilan dan sikap profesional agar kompeten dibidang Fashion drawing (menggambar busana), Pattern Making (membuat pola) dan Pembuatan busana. Kami membekali siswa-siswi dengan wawasan entrepreneur agar mampu mengembangkan diri dikemudian hari baik secara mandiri maupun melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi. Selain itu juga menjalin kerjasama dengan beberapa Butik ternama di pekanbaru untuk magang dan menambah ilmu peserta didik. Zuriana juga menambahkan, tantangan kami saat ini adalah kenaikan harga bahan baku mengakibatkan naiknya biaya produksi yang dikeluarkan pembuat busana sehingga pengrajin menaikkan harga jual busana lokal.

Fashion bagi anak muda zaman sekarang banyak dipengaruhi oleh media sosial dan selebriti. Tren fashion yang terus berubah mendorong anak muda untuk selalu mengikuti perkembangan terkini. Sebagai orang muda lokal yang bergerak ditatabusana Angela Sasna melihat peluang tersebut untuk mengintegrasikan busana lokal dengan tren saat ini. Salah satu contohnya beberapa waktu yang lalu pada acara Lancang Kuning Karnival di Pekanbaru Wakil Bupati Siak Husni Merza didampingi Istrinya Ananda Laila Putri turut hadir dan memeriahkan event tersebut, dengan melakukan fashion show menampilkan pakaian tenun siak kombinasi dengan batik siak. Yang unik dari busana ini adalah bahan kainnya tersebut dibuat dari benang serat nenas yang tumbuh dari lahan gambut siak, busana ini di rancang oleh Angel Sasna.
Maka dari itu, disampaikan oleh Angela Sasna sangat senang sekali kegiatan hari ini saya dapat bertemu kembali dengan guru saya buk Zuriana yang menginspirasi sekaligus memotivasi saya sejauh ini. Harapan kepada kawan-kawan muda yang hadir untuk bangga berbusana lokal dan melestarikannya. "Dan apabila kita diberikan kesempatan mendapatkan pelatihan atau peningkatan kapasitas dibidang fashion maksimalkan kesempatan tersebut dan diaktualisasikan dalam bisnis". Tutup Angela.

Kegiatan Diskusi diakhiri dengan penampilan fashion show oleh Desainer SMK N 1 Pariwisata Siak dan Designer Angela Sasna yang diperagakan oleh Dara Siak serta Siswi SMKN 1 Pariwisata Siak. Moment ini sekaligus memulai pelaksanaan lomba fotografi sesi Indoor, dan kemudian dilanjutkan sesi street foto outdoor bersama model.

Fashion Show - Foto by Yeri

Sharing Fotografi: PERAN KOMUNITAS FOTO UNTUK PENUMBUHAN WISATA

Hunting foto busana lokal telah selesai. Waktu berbuka pun tiba, kudapan berbuka pun disantap bersama makan malamnya. Dilanjutkan melaksanakan ibadah shalat maghrib.

Sesi yang ditunggu oleh kawan-kawan fotografer adalah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman didunia fotografi oleh Sutawijaya. om Suta kami memanggilnya, beliau adalah seorang Fotografer Senior di Riau. Saat ini om suta dipercayakan sebagai Ketua Komunitas Fotografi Pekanbaru (KFP) Periode 2025-2027. KFP merupakan Komunitas Fotografi tertua di Riau, berdiri sejak 25 April 2006.

Media sosial dan fotografi digital telah mengubah cara orang menemukan destinasi baru.” SUTAWIJAYA berpendapat bahwa "perkembangan teknologi fotografi dan media sosial membuat promosi pariwisata lebih mudah, karena foto yang menarik dapat viral dan meningkatkan ketertarikan terhadap suatu destinasi". Kegiatan yang dilaksanakan oleh Skelas ini merupakan salah satu bagian dari promosi destinasi wisata sekaligus pelestarian budaya lewat busana lokal karena dilaksanakan di Tangsi Belanda yang merupakan salah satu destinasi wisata di Siak. "Kawan-kawan Fotografer ambil foto di spot terbaik, dimana Point of Interest (PoI) lalu posting di media sosial dan platform lainnya, karena orang akan tertarik datang untuk berfoto pada tempat yang sama dimana kawan semua hunting foto hari ini" tambah suta.

SKELAS (Sentra Kreatif Lestari) kembali menyelenggarakan forum diskusi rutin SKELAS BESELO (Bebual Semangat Lokal) edisi ke-12, berkolaborasi dengan Ikatan Bujang Dara Kabupaten Siak. Bertempat di bawah Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah, kegiatan ini mengangkat tema “Sadar akan Budaya dan Pariwisata di Masa Kini” sebagai ajakan kepada generasi muda untuk menjaga warisan budaya dan berperan aktif dalam pengembangan pariwisata lokal yang berkelanjutan.

Diskusi yang berlangsung hangat dan partisipatif ini menghadirkan H. Said Muzani, S.H., tokoh budaya Melayu Siak, serta Muhammad Farhan, Bujang Siak 2024, yang membagikan pandangan dan pengalaman seputar identitas budaya, pelestarian nilai-nilai tradisional, hingga praktik promosi pariwisata yang ramah lingkungan dan relevan dengan perkembangan zaman. Tidak hanya mendengar, para peserta, yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan komunitas muda seperti GenRe Siak, Forum Anak, dan OSIS sekolah-sekolah di Siak, juga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berbagi keresahan dan semangat kontribusi mereka.

Beberapa pertanyaan menarik dari peserta mencakup: alasan Siak dijuluki The Truly Malay, bagaimana peran mahasiswa dalam pelestarian budaya, cara menjadi role model pariwisata, serta tugas dan makna menjadi Bujang Dara. Diskusi ini juga menekankan pentingnya media sosial sebagai alat promosi budaya dan pariwisata, serta ajakan untuk memperkuat kolaborasi dengan komunitas dan pelaku lokal.

Sebanyak 39 peserta hadir dalam kegiatan ini, yang berlangsung dari pukul 14.30 hingga 17.30 WIB. Meskipun sempat terkendala cuaca panas dan penyesuaian tempat duduk, semangat peserta dan narasumber tidak surut hingga akhir sesi. SKELAS BESELO XII membuktikan bahwa ruang-ruang diskusi sederhana seperti ini tetap relevan dan penting untuk merawat semangat lokal, mempererat jejaring komunitas, dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya budaya dan pariwisata sebagai fondasi pembangunan Siak yang lestari.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan komitmen untuk terus menghidupkan diskusi lintas generasi yang inklusif dan berdampak. Dengan semangat kebersamaan, SKELAS mengajak seluruh pemuda Siak untuk terus menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya sebagai jati diri daerah di tengah arus perubahan zaman.

H. Said Muzani, S.H

Kabupaten Siak kembali menunjukkan langkah maju dalam upayanya menjadi kabupaten mandiri dan lestari dengan suksesnya penyelenggaraan Siak Innovation Challenge 2025. Ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga wadah bagi generasi muda untuk berinovasi menciptakan solusi kreatif dalam mendukung perlindungan ekosistem gambut, ekonomi lestari, dan pembangunan berkelanjutan. Sebagai kabupaten yang 57% wilayahnya berupa lahan gambut, Siak menghadapi tantangan besar untuk menjaga kelestariannya sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan.

Tragedi kebakaran hutan pada tahun 2015 menjadi momentum penting bagi Siak untuk bertransformasi. Pemerintah Kabupaten Siak menetapkan komitmen kuat melalui Kebijakan Siak Hijau, sebuah payung kebijakan yang mendukung tata kelola lestari dan berkeadilan. Dengan inisiatif seperti Siak Innovation Challenge, identitas baru “Siak Asik” — Alam, Sejarah, Inovasi, dan Kolaborasi — semakin ditegaskan sebagai cerminan nilai utama pembangunan kabupaten ini.

Budhi Yuwono, Kepala Bapperida Kabupaten Siak, menyampaikan bahwa inovasi adalah kunci keberhasilan perubahan ini. “Siak Innovation Challenge telah membuktikan bahwa masyarakat, terutama generasi muda, memiliki potensi besar dalam menciptakan inovasi yang relevan dan berdampak nyata. Ide-ide ini kami harapkan menjadi solusi yang membawa manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan di Siak,” ujarnya.

Siak Innovation Challenge 2025 merupakan hasil kolaborasi berbagai entitas lokal yang digerakkan oleh orang muda Siak dalam payung ‘Ekosistem Lestari Siak’, yang melibatkan Sentra Kreatif Lestari Siak (Skelas), Alam Siak Lestari (ASL), Pinaloka, Explore Siak, dan Haha Hihi Media. Melalui kerja sama ini, nilai-nilai lokal dan semangat kolektif generasi muda diterjemahkan menjadi aksi nyata yang berkontribusi pada restorasi dan pelestarian ekosistem gambut.

Musrahmad, Ketua Panitia Siak Innovation Challenge sekaligus Direktur Alam Siak Lestari, menegaskan pentingnya inovasi berbasis komunitas. “Tantangan menjaga ekosistem gambut adalah tanggung jawab besar yang membutuhkan ide-ide baru. Kompetisi ini menjadi langkah awal membangun sinergi lintas sektor untuk mendukung Kebijakan Siak Hijau,” jelasnya.

Setelah proses panjang yang dimulai dari pendaftaran, pendampingan oleh mentor ahli, hingga pitching, tiga inovasi terbaik berhasil meraih penghargaan:

  1. Secawan Gambut — Proyek Komik Anak dengan Tema Lahan Gambut.
  2. RB Energy — Inkubasi UMKM Penghasil Produk Sagu.
  3. Tim GATY — Website Edukasi dan Platform Jual Beli Produk Lahan Gambut.

Para pemenang tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga pendanaan untuk merealisasikan proyek mereka. Teguh Al-Azizul dari Tim GATY mengungkapkan harapannya, “Kami berharap kompetisi seperti ini terus berlanjut, agar generasi muda lain juga terdorong untuk berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.”

Siak Innovation Challenge 2025 menunjukkan bahwa inovasi tidak harus bersifat megah. Ramon Y. Tungka, salah satu dewan juri, menegaskan, “Inovasi bisa hadir dari hal-hal sederhana. Yang terpenting adalah ide dan aksi nyata yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat lokal.” Konsep inovasi sederhana ini diharapkan dapat mendorong masyarakat Siak untuk ikut berpartisipasi aktif menemukan inovasi-inovasi berbasis alam lain yang sederhana dari kehidupan sehari-hari.

Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan penghargaan terhadap nilai lokal, Kabupaten Siak terus menginspirasi daerah lain untuk mengembangkan pendekatan berbasis komunitas dalam menjaga keberlanjutan ekosistem dan ekonomi. Melalui partisipasi aktif generasi muda, masa depan Kabupaten Siak sebagai daerah yang hijau, sejahtera, dan mandiri semakin nyata.

S K E L A S

Sentra Kreatif Lestari Siak (Skelas) merupakan sebuah tempat sekaligus wadah bagi orang muda kreatif untuk berkreasi menuangkan ide-ide untuk menggali potensi unggulan Kabupaten Siak dengan tetap menjaga kelestarian alamnya.
HUBUNGI KAMI
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram