
Siak, 4 Juli 2025, SKELAS (Sentra Kreatif Lestari) kembali menggelar Skelas Beselo edisi ke-14 di Kopitiam Untung Terus. Mengangkat tema “Bisnis dari Keresahan: Gimana Keluhan Bisa Jadi Cuan”, forum ini menjadi ruang terbuka yang menghadirkan diskusi hangat, reflektif, dan penuh semangat bagi anak-anak muda Siak yang tertarik membangun usaha dari keresahan sehari-hari.
Acara ini dihadiri oleh 30 peserta dari berbagai latar belakang, mahasiswa, pelaku UMKM muda, pegiat komunitas, dan individu yang tertarik pada bisnis berkelanjutan. Dengan suasana khas beselo, forum dirancang tanpa narasumber utama untuk menciptakan ruang setara, partisipatif, dan jujur antar peserta.
Sebagai pemantik awal, hadir dua tokoh inspiratif yang berbagi cerita jatuh bangun membangun usaha dengan dampak sosial dan lingkungan:
Diskusi kemudian mengalir melalui sesi Kotak Tantangan, berisi pertanyaan reflektif yang mengajak peserta menggali keresahan mereka, seperti:
“Apa keresahan kamu?”,
“Apa yang membuat kamu yakin keresahanmu layak didukung?”,
hingga “Kalau kamu punya 1 juta sekarang, akan kamu gunakan untuk apa?”
Dari sana, berbagai cerita bermunculan: mulai dari tantangan minimnya modal, ketakutan gagal, hingga sulitnya akses pasar. Namun semua itu justru membuka percakapan bahwa empati, kepekaan, dan keresahan bisa menjadi awal dari sebuah solusi yang bernilai.
“Dari acara ini, saya sadar bahwa keluhan saya tentang sulitnya cari produk ramah lingkungan bukan cuma dirasakan sendiri. Bisa jadi ada banyak orang juga yang mengalaminya, dan itu bisa jadi ide bisnis,” ungkap salah satu peserta dalam sesi refleksi.
Meskipun sempat berpindah lokasi ke area dalam karena cuaca mendung dan tantangan dalam menjaring peserta secara daring, antusiasme yang tinggi justru membuat waktu diskusi terasa singkat. Forum ini menunjukkan bahwa pendekatan diskusi tanpa narasumber tetap mampu membangun rasa percaya diri dan keterhubungan antar peserta.
Melalui SKELAS BESELO edisi ke-14 ini, semakin terlihat bahwa orang muda Siak memiliki semangat besar untuk membangun bisnis yang berakar dari realita dan empati. Dengan dukungan ruang aman, komunitas, dan dorongan reflektif, mereka mulai melihat bahwa memulai usaha tak harus dari modal besar, namun dari keresahan yang autentik dan keinginan untuk menciptakan perubahan.
Redaktur: Ulfa